INFO PENTING

Sabtu, 16 Oktober 2010

Berubahnya Pranata Mangsa

Berubahnya Pranata Mangsa

TEMPO Interaktif, Jakarta -Mengapa pranata mangsa kepunyaan nenek moyang tidak dapat lagi jadi pegangan dalam bertani? Bagaimana nasib anak-anak kami jika pranata mangsa itu berubah? Pertanyaan ini diajukan petani di Indramayu dan Gunungkidul kepada tim peneliti dari Departemen Antropologi Universitas Indonesia yang dipimpin Yunita Triwardani Winarto.

Tim peneliti kemudian mengajak para petani belajar bersama-sama mengamati cuaca yang berubah-ubah. Selama berbulan-bulan, mereka mencatat curah hujan, musim kemarau, kapan matahari sedang panas dan hama datang, serta informasi lainnya. "Ibu, kita harus susun pranata mangsa baru," ujar Yunita, menceritakan pendapat seorang petani.

Kamis (7/10) pekan lalu, Yunita dan timnya memaparkan temuan itu dalam acara "Learning from Climate Change: Collaborating with Indramayu Farmers in Measuring Rainfall" di kampus Universitas Indonesia, Depok. Pembahas presentasi itu adalah Iwan Tjitradjaya, Ezra M. Choesin, dan Kees Stigter, ahli agroklimatologi dari Agromet Vision, Belanda.

Pranata mangsa atau "ketentuan musim" adalah semacam penanggalan yang dikaitkan dengan kegiatan usaha pertanian, khususnya untuk kepentingan bercocok tanam atau penangkapan ikan. Penanggalan ini berbasis peredaran matahari dan siklusnya (setahun) berumur 365 hari (atau 366 hari).

Dalam pranata mangsa ini memuat pula berbagai aspek fenologi dan gejala alam yang dimanfaatkan menjadi pedoman dalam kegiatan usaha tani. Termasuk persiapan diri menghadapi bencana kekeringan, wabah penyakit, serangan pengganggu tanaman, atau banjir yang mungkin timbul sewaktu-waktu.

Menurut Yunita--yang mendapat gelar Akademi Profesor dari Akademi Professorship Indonesia dan The Royal Netherlands Academy of Arts and Sciences--saat ini petani kebingungan dalam mengambil keputusan di tengah cuaca ekstrem yang berubah-ubah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika selalu melansir prakiraan cuaca. "Namun sering tidak sampai ke petani," kata Yunita, yang meraih doktor antropologi dari The Australian National University.

Kementerian Pertanian memang membantu benih tahan cuaca ekstrem dan membentuk Sekolah Lapang Iklim di beberapa daerah. Namun, setelah program selesai, petani bingung harus bertanya ke mana lagi. Di sisi lain, pengetahuan penyuluh pertanian sangat minim dan tidak dipercaya karena jarang turun ke sawah. Petani, ujar Yunita, butuh pendampingan selama proses adaptasi perubahan iklim. Alhasil, program berbasis proyek tidak bisa mengurangi kerentanan petani.

Menurut Yunita, perubahan iklim merupakan masalah budaya. "Apa yang sebenarnya terjadi bila akhirnya interaksi manusia dan lingkungan hidupnya menjadi semakin kehilangan pijakan?" Pola-pola pemanfaatan, pelestarian, dan pengelolaan sumber daya alam yang telah terbudayakan selama ratusan tahun tidak dapat dipertahankan lagi. Karena itu, Yunita melanjutkan, pengetahuan tentang cuaca dan iklim serta strategi pengelolaan sumber daya alam perlu disesuaikan. "Dialektika antara perubahan iklim, pengetahuan, dan praktek perlu berlangsung terus-menerus," katanya.

Untuk itu, butuh kajian secara cermat mekanisme yang memungkinkan penduduk setempat mampu mengintegrasikan ulang pengetahuan dan kosmologi yang diacu dalam bercocok tanam, seperti pranata mangsa, pada petani di Jawa. Menurut Yunita, selisih 2 derajat Celsius dalam perubahan iklim mungkin tak terlalu berpengaruh bagi penduduk kota yang tidak menggantungkan hidupnya dari bercocok tanam. Namun hal ini sangat berpengaruh terhadap para petani dan anak cucunya, yang hidupnya dari pertanian.

UNTUNG WIDYANTO

    Tidak ada komentar: